Pengelolaan Limbah dan Polusi

January 28, 2010 § Leave a comment


Permasalahan Limbah atau Sampah dan Polusi

Permasalahan polusi dan limbah telah muncul sejak terjadinya revolusi industri di negara-negara barat. Pertumbuhan penduduk di dunia dari tahun ke tahun semakin menunjukkan peningkatan, sehingga kebutuhan akan sumberdaya alam dan energi semakin tinggi. Permasalahan utama munculnya pencemaran antara lain akibat pembangunan perkotaan, pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, pertumbuhan industi-industri dan pemanfaatan bahan-bahan kimia yang memberikan dampak kepada masuknya zat-zat pencemar kedalam lingkungan (udara, tanah, dan air). Pemanfaatan bahan-bahan kimia telah terjadi sejak tahun 1940-an yang memiliki dampak serius tehadap lingkungan seperti pemakaian peptisida untuk pertanian, zat radioktif, PCBs, dan Clorofluorocarbon (CFCs).
Pada dasawarsa tahun 1960-an negara-negara maju mulai tumbuh kesadaran tentang lingkungan hidup. Mereka sadar bahwa permasalahan polusi dan pencemaran dapat menurunkan kualitas lingkungan hidup. Kemudian beberapa negara-negara maju mulai mendesak untuk mengalihkan industri-industri dan produk teknologi yang tidak ramah lingkungan ke negara-negara yang sedang berkembang dan ini yang disebut dengan sindrom NIMBY. Dalam hal ini program yang dikembangkan di negar-negara berkembang bertujuan untuk meningkatkan keterbelakangan teknologi dan ekonomi, dengan pengalihan industri yang polutif dan penjualan teknologi yang sudah usang dalam rangka tranfer teknologi dalam bentuk bentuan utang luar negri. Kemajuan teknologi meningkatkan berkembangnya negara-negara industri, untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan pasar kemudian terjadi produksi besar-besaran keadaan ini mengakibatkan terjadinya polusi industri dan limbah industri bila tidak memanfaatkan teknologi yang ramah lingkungan.

Permasalahan Polusi dan Limbah
Permasalahan polusi dan limbah terkonsentrasi ke dalam wilayah perkotaan, pertumbuhan cepat suatu perkotaan terutama pada negara-negara yang sedang berkembang atau negara-negara miskin untuk merubah desa menjadi perkotaan yang sering menekankan pada pembangunan-pembanguna infrastuktur. Pada negara-negara maju memiliki bahaya polusi dan limbah sangat tinggi akibat adanya pertumbuhan jumlah penduduk di perkotaan sehingga dapat mengurangi daya dukung lahan karena kebutuhan akan lahan semakin meningkat.
Sumber Pencemaran-Pencemar datang dari berbagai sumber dan memasuki udara, air dan tanah dengan berbagai cara. Pencemar udara terutama datang dari kendaraan bermotor, industri, dan pembakaran sampah. Pencemaran udara dapat pula berasal dari aktivitas gunung berapi. Pencemaran sungai dan air tanah dari kegiatan domestik, industri, dan pertanian. Limbah cair domestik terutama BOD, COD, dan zat organik, dan berbagai pencemar beracun, limbah cair dari kegiatan pertanian, terutama berupa nitrat dan fosfat. Proses pencemaran dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yaitu bahan pencemar tersebut langsung berdampak meracuni sehingga mengganggu kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan atau mengganggu keseimbangan ekologis baik air, udara maupun tanah. Proses tidak langsung, yaitu beberapa zat kimia bereaksi di udara, air maupun tanah, sehingga menyebabkan pencemaran. Pencemaran ada yang langsung terasa dampaknya, misalnya berupa gangguan kesehatan langsung (penyakit akut) atau akan dirasakan setelah jangka waktu tertentu (penyakit kronis), sebenarnya alam memiliki kemampuan sendiri untuk mengatasi pencemaran (self recovery), namun alam memiliki keterbatasan. Setelah batas itu terlampaui, maka pencemaran akan berada di alam secara tetap atau terakumulasi dan kemudian berdampak pada manusia, material, hewan, tumbuhan dan ekosistem.

1. Pengertian Tentang Polusi dan Pencemaran Limbah Perkotaan
Masalah pencemaran udara dikota-kota besar, sangat dipengaruhi dan berbeda oleh berbagai faktor yaitu: tofografi, kependudukan, iklim dan cuaca serta tingkat atau angka perkembangan sosio-ekonomi dan industrialisasi. Masalah-masalah ini akan meningkat keadaannya, jika jumlah penduduk perkotaan semakin meningkat yang mengakibatkan jumlah penduduk yang terpapar polusi udara juga meningkat. Perkiraan–perkiraan PBB menunjukkan sampai tahun 2000,47 persen dari jumlah keseluruhan populasi akan tinggal didaerah perkotaan. Pada tahun1990, 60 kota–kota didunia mempunyai jumlah penduduk ± 3 juta orang dan pada tahun 2000 diproyeksikan 85 kota-kota akan termasuk jenis katagori ini.

2. Sumber-Sumber Polusi Udara dan Pencemaran Limbah
Pertumbuhan polusi kota dan tingakat industrialisasi yang tak terhindar, akan mengarah kepada kebutuhan enegi yang lebiH besar, pada umumnya akan menghasilkan pembuabuangan limbah / zat pencemar lebih banyak.pembakaran bahan bakar posil untuk pemanasan rumahtangga untuk pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor, dalam proses–proses industri dan pembuangan limbah padat dengan pembakaran merupakan sumber utama dari pembuangan limbah zat-zat pencemar didaerah perkotaan.
Zat-zat pencemar udara yang paling sering dijumpai dilingkungan perkotaan adalah: SO2, NO dan NO2, CO, O3, SPM(=Suspended Particulate Matter) dan Pb(=Lead). SO2 berperan dalam terjadinya hujan asam dan polusi partikel sulfat aerosol. NO2 berperan terhadap polusi partikel dan deposit asam dan prekusor ozon yang merupakan unsur pokok dari kabut fotokimia. Asap dan debu termasuk polusi partikel. Ozon, CO, SPM, dan Pb seluruhnya telah dibuktikan memberi pengaruh yang merugikan kesehatan manusia. Pembakaran bahan bakar fosil di sumber-sumber yang menetap, mengarah terbentuknya produksi SO2, NO dan NO2 serta Pb, sedangkan masing–masing berminyak solar jelas terbukti menghasilkan sejumlah partikel dan SO2 sebagai tambahan dari NO dan NO2. Ozon merupakan suatu fotokimia oksidan secara tidak langsung dihasilkan dari sumber-sumber pembakaran, dibentuk dibagian bawah atmosfir, dari NO dan komponen-komponen organik yang mudah menguap(=VOCs= Volatile Organic Compounds) atau Hidrokarbon–hidrokarbon reaktif dengan adanya sinar matahari.
VOCs dihasilkan dari keaneka ragaman sumber-sumber buatan manusia termasuk lalu lintas jalan raya, produksi dan pemakaian zat-zat kimia organik seperti ;bahan-bahan pelarut, transport dan pemakaian crude oil, pemakaian dan distribusi gas alam, tempat pembuangan limbah dan pabrik-pabrik limbah cair. Walaupun penemuan-penemuan pembuangan limbah cair secara rinci tidak tersedia luas bagi kota-kota itu sendiri. Berdasarkan observasi nasional dan adanya peningkatan registrasi kendaraan bermotor akhir-akhir ini, dapat disimpulkan bahwa kendaran bermotor merupakan sumber utama dari zat-zat pencemar udara terutama CO, NO, dan NO2, SPM dimayoritas dikota-kota besar dinegara industri.
Sebaiknya dikota-kota negara berkembang menunjukkan variasi sumber polusi udara yang lebih besar. Kontribusi relatif dari mobil dan sumber-sumber yang bergerak / menetap terhadap emisi – emisi polutan udara berbeda nyata diantara kota–kota,tergantung dari tingkat motorisasi, kepadatan,tipe industri yang ada. Kontribusi dari kendaraan bermotor lebih sedikit dikota-kota dengan tingkat motorisasi rendah seperti: di Afrika dan kota-kota terletak didaerah yang suhu dingin (tergantung pada bahan bakar batu bara atau biomosa untuk pemanas ruangan).
Suatu hal yang perlu diperhatikan pada beberapa negara berkembang adalah cenderung banyaknya kendaraan bermotor tua dan tak terawat sehingga jelas merupakan suatu faktor yang menunjukkan kendaraan tersebut adalah sumber zatzat pencemar. Banyaknya jumlah kendaraan bermotor didunia saat ini dipusatkan kedalam kelompok ekonomi pendapatan tinggi dunia. Pada tahun 1988, negara–negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) mencatat bahwa dari 80% jenis-jenis mobil didunia: 70%nya adalah jenis truk dan bus-bus , >50% merupakan kendaraan beroda dua dan tiga. Sejak tahun 1950; armada kendaraan secara global telah meningkat 10% kali lipat dan diperkirakan menjadi dua kali lipat dalam tempo 20 –30 Tahun mendatang, dari sekarang berjumlah 630 juta buah. Angka pertambahan jumlah kendraan dunia. diproyeksikan melampaui kedua jumlah total produksi dan populasi diperkotaan.
Peranan kendaraan bermotor terhadap pertambahan polusi menjadi meningkat di negara-negara yang sedang berkembang. Jika tidak dilakukan pengawasan yang ketat terhadap zat-zat pencemar yang berkaitan dengan lalu lintas, sudah pasti akan memperburuk kondisi udara daerah ini. Sebagai tambah zat-zat pencemar udara yang lebih tradisionil yang lebih umum, sejumlah besar racun dan zat kimia dideteksi telah meningkat jumlahnya diudara perkotaan, walaupun dengan konsentrasi rendah. Contohnya :
- Logam–logam berat pilihan (Berilium, Cadnium, Merkuri)
- Sedikit zat-zat organik (Benzene, Polychlorodi benzo-dioxid Furan,Formaldehide, Vinychloride, Polyaromatic hidrokarbon)
- Radionucleids seperti ; radon
- Fibers; Asbes
Bahan–bahan kimia tersebut dikeluarkan dari bermacam-macam sumber seperti; pembakaran sampah, pabrik-pabrik pengelolah limbah, proses-proses industri dan manufaktur, dry cleaning, bahan–bahan bangunan, dan kendaraan bermotor. Walaupun emisi-emisi zat kimia ini umumnya lebih rendah kadarnya dibandingkan zat pencemar tradisionil, namun jelas polutan ini memberi resiko terhadap kesehatan sehubungan dengan daya racun mereka yang sangat tinggi atau bersifat karsinogenik bahkan bisa keduanya. Zat-zat polutan ini lebih sering dianalisa karena rendahnya konsentrasi mereka diudara, juga karena pengawasan yang sangat kurang. Untuk itu dilakukan pengawasan secara otomatis.

3. Distribusi dan Transportasi
Dua hal yang sangat mempengaruhi panyebaran dan transportasi dari zat-zat pencemar udara, yakni iklim dan cuaca, serta letak topografi daerah yang dikaitkan dengan penyebaran penduduk. Iklim–iklim dikota besar berbeda dengan benua yang lebih dingin dan lembab (seperti di Beijing yang sangat dingin), dibandingkan dengan daerah yang di Gurun (Kairo) atau tropical dengan temperatur sedang dan kelembaban tinggi (Bangkok). Akibat beratnya musim dingin, dapat menentukan jumlah pemanasan yang dibutuhkan penduduk sehingga meningkatkan emisi-emisi polutan, seperti SO2 diwaktu musim dingin. Pada kota–kota dengan temperatur sedang, beban polusi cenderung disebarkan secara merata sepanjang tahun. Thermal inversion (=pembalikan suhu) merupakan masalah khusus bagi kotakota dengan iklim panas dan dingin. Dalam keadaan penyebaran normal, gas-gas pencemar yang panas akan timbul disaat mereka datang dan kontak dengan masa udara yang dingin, pada ketinggian yang lebih tinggi. Bagaimanapun lingkaran–lingkaran tertentu, suhu udara lebih meningkat jauh dan membentuk suatu lapisan inversi beberapa puluh atau ratus meter diatas tanah. Lapisan ini akan merangkap polutan–polutan yang dekat sumber-sumber emisi dan berperan sebagai pelindung panas, memperlambat penyebarannya. Kondisi-kondisi seperti ini akan menjadi permasalahan jika kecepatan angin rendah. Keadaan isotermal adalah suatu keadaan yang dijumpai bila tidak ada perubahan dalam temperatur didaerah ketinggian, sehingga mempunyai pengaruh yang sama. Fenomena iklim dan cuaca lain yang sangat mempengaruhi kualitas udara adalah heat urban island yaitu panas yang dihasilkan oleh sebuah kota mengakibatkan meningkatnya suhu udara, sehingga terjadi penarikan suhu lebih dingin kedalam dan kemungkinan udaranya lebih tercemar dari daerah-daerah industri sekitarnya. Sebaiknya pada kota-kota yang bersuhu lebih tinggi, yang terkena sinar matahari dengan kepadatan lalu lintas yang tinggi, cenderung mudah terbentuknya jaringan ozon dan fotokimia oksidan lain dari emisi-emisi polutan . Letak tofografi kota-kota besar juga dapat mempengaruhi sifat penyebaran dan transportzat-zat polutan,contohnya sbb :

  1. Beijing, Kairo, New Delhi dan Moskow mempunyai tingkat tofografi relatif dan iklimnya tak dipengaruhi oleh molekul air.
  2. Bangkok, bombay, Buenos aires, Calcutta, Jakarta, Karachi, London, Manila, New York, Shanghai dan Tokyo mempunyai tingkat tofografi yang relatif dan iklimnya dipengaruhi oleh molekul air.
  3. Los Angeles, Mexico city, Rio de janeiro, Sao paolo dan Seoul mempunyai tofografi beraneka ragam dan suhunya dipengaruhi oleh pegunungan disekitarnya.

Keberadaan yang jelas dari suatu badan air/molekul dapat mempengaruhi iklim mikro dan arah angin pantai siang dan malam hari. Bukit-bukit yang mengitari kota-kota sering berfungsi sebagai penghalang hembusan angin, perangkap polusi yang dekat kekota. Pada kota-kota yang dikitari oleh pegungungan tinggi, seperti Los Angeles dan Mexico City, zat-zat polutan mungkin akan terperangkap dalam udara selama beberapa hari. Daerah pegunungan juga berfungsi sebagai penghambat transportasi polusi udara di kota-kota besar. Pada kota-kota dengan bangunan berstruktur tinggi penyebaran emisi polutan akibat angin besar lebih rendah (The Canyon Effect), karena terhalang oleh bangunan.

4. Dampak Polusi Udara
Dampak memberikan pengaruh yang merugikan bagi kesehatan manusia, bukan saja dengan terhisap langsung, tetapi juga dengan cara-cara pemaparan lainnya seperti: meminum air yang terkontaminasi dan melalui kulit. Umumnya sebagian besar zat-zat polutan udara ini langsung mempengaruhi sistem pernafasan dan pembuluh darah. Meningginya angka kesakitan dan kematian dan adanya gangguan fungsi paru-paru dikaitkan dengan kenaikan konsentrasi zat SO2, SPM, NO2 dan O3 yang juga mempengaruhi sistem pernafasan. Pemaparan yang akut dapat menyebabkan radang paru sehingga respon paru kurang permeabel, fungsi pau menjadi berkurang dan menghambat jalan udara. Ozon dapat mengiritasi mata, hidung dan tenggorokan dan penyebab sakit kepala. CO beraffianitas tinggi terhadap Hb sehingga mampu mengganti O2 dalam darah yang menuju ke sistem pembuluh darah dan jantung serta persarafan. Pb menghambat sistem pembentukan Hb dalam darah merah, sumsum tulang, merusak fungsi hati dan ginjal dan penyebab kerusakan syaraf. Pengaruh-pengaruh langsung dari polusi udara terhadap kesehatan manusia tergantung pada; intensitas dan lamanya pemaparan, juga status kesehatan
penduduk yang terpapar.

5. Pemantau Kualitas Udara
Pada tahun 1960 an pengenalan zat-zat pencemar alam yang ada dimanamana seperti: SO2, NO & NO2, CO, SPM, Pb dan O3 di udara perkotaan, sertatertarik akan pengaruh yang merugikan bagi kesehatan manusia mendorong Institusi-institusi untuk mengatur pemantauan jaringan guna pengukuran rutin
kualitas udara perkotaan. Standard-standard kualitas udara Nasional dan bentuk-bentuk lain dari Undang-undang juga diperkenalkan untuk melindungi kesehatan manusia. Banyak dinegara-negara maju UU dan pemantauan pada mulanya difokuskan terhadap SO2 dan SPM, sejak akhir tahun 1970 sejalan dengan datangnya dan peningkatan jumlah kenderaan bermotor yang merupakan sumber polusi udara yang penting seperti: CO, NO & NO2 dan Pb, perkembangan jaringan pemantau polutan kualitas udara dari lalulintas dilakukan secara rutin. Pada tahun 1980, pemantau udara secara tradisioil didirikan di negara-negara berkembang, khususnya di Asia dan Amerika Selatan. Saat sekarang ini perhatian besar ditujukan terhadap pemantauan oksidan fotokimia, O3 dan VOCs. Walaupun alat ini tidak begitu banyak berkembang, hanya sedikit negara yang rutin memonitor O3 sebagai pedoman dari polusi fotokimia. Untuk zat polutan VOCs jarang digunakan karena sulitnya data tentang zat ini diperoleh. Sebagai kunci dari prioritas pemantauan zat polutan adalah resikonya terhadap kesehatan manusia. Pusat monitor hanya memantau data-data tentang tingkat polusi udara di saat tertentu dan contoh tempat tertentu. Bahkan pada negara-negara maju dengan tingkat industri tinggi umumnya hanya terbatas pada pengamatan lokasi secara rutin. Pada tahun 1980, pemantau udara secara tradisionil didirikan negara-negara belum berkembang, khusus di Asia dan Amerika Selatan. Saat sekarang ini perhatian besar ditujukan terhadap pemantau oksidan fotokimia,O3 dan VOCs. karena besarnya biaya untuk mendirikannya. Menurt penilitian WHO dari 60 perusahaan-perusahan didunia,hanya 34 yang memiliki rencana pemantauan sedang yang 16 lagi tidak ada.

Pengelolaan Limbah dan Polusi
Minimalisasi limbah terdiri dari tiga aktivitas yang disebut dengan 3R, yaitu Reduce (kurang), Recycle (daur-ulang), dan Reuse (penggunaan kembali). Selain itu dalam meminimalisasi limbah dikenal juga kegiatan yang disebut waste hierarchy, yang kegiatannya adalah:
• Mencegah timbulnya limbah dan pencemaran melalui substitusi bahan baku, perubahan proses atau penggunaan teknologo alternative.
• Mendaur-ulang limbah yang tidak dapat dicegah keberadaannya.
• Mengelola limbah yang tidak dapat dicegah/didaur ulang
• Mengamankan limbah yang telah diolah secara legal.
Dari uraian diatas, agar pengelolaan lingkungan dapat berjalan dengan efisien, dibutuhkan suatu kebijaksanaan lingkungan yang diterapkan dalam suatu system manjemen. Pernyataan kebijakan adalah suatu deklarasi yang ditandatangani oleh pimpinan organisasi. Dalam pengelolaan lingkungan, hal-hal yang menyangkut organisasi seringkali diabaikan begitu saja. Perhatian yang diberikan terutama pada aspek-aspek teknis dari pengawasan lingkungan dengan mengabaikan segi kemanusiaan dan organisasi.
Sistem Manajemen Lingkungan ISO-14001 dibahas oleh Sub-komite 1(SC-1), yang merupakan inti dari seluruh usaha sertifikasi spesifikasi system pengelolaan lingkungan atau system manajemen lingkungan, yang dihasilkan adalah satu-satunya spesifikasi yang diwajibkan saat ini. Spesifikasi ISO-14001 adalah yang paling umum, yang memberikan kerangka yang menyeluruh bagi hal-hal lainnya dari semua spesifikasi yang lain (ISO 14001-14040).
Penyelesaian masalah pencemaran terdiri dari langkah pencegahan dan pengendalian. Langkah pencegahan pada prinsipnya mengurangi pencemar dari sumbernya untuk mencegah dampak lingkungan yang lebih berat. Di lingkungan yang terdekat, misalnya dengan mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan menggunakan kembali (reuse) dan mendaur ulang (recycle). Di bidang industri misalnya mengurangi air yang dipakai, mengurangi jumlah limbah, dan mengurangi keberadaan zat kimia PBT (Persistent, Bioccumulative, and Toxic), dan berangsur-angsur menggantinya dengan Green Chemistry. Green Chemistry merupakan segala produk dan proses kimia yang mengurangi atau menghilangkan zat berbahaya. Tindakan pencegahan dapat pula dilakukan dengan mengganti alat-alat rumah tangga, atau bahan bakar kendaraan bermotor dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Pencegahan dapat pula dilakukan dengan kegiatan konservasi, penggunaan energi, alternatif, penggunaan alat transportasi alternatif, dan permbangunan berkelanjutan (sustamable development). Langkah pengendalian sangat penting untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat. Pengendalian dapat berupa pembauatan standar baku mutu lingkungan, menitoring lingkungan dan penggunaan teknologi untuk mengatasi masalah lingkungan. Untuk permasalahan global seperti perubahan iklim, penipisan lapisan ozon, dan pemanasan global diperlukan kerjasama selama pihak antara satu negara dengan negara lain. *

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pengelolaan Limbah dan Polusi at Petrasawacana.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: